FESTIVAL KERAPAN SAPI BRUJUL PROBOLINGGO 2026

Karapan Sapi Brujul adalah tradisi pacuan sapi khas Kota Probolinggo, Jawa Timur yang diselenggarakan di area persawahan berlumpur. Berbeda dari karapan sapi Madura yang menggunakan sapi pacu khusus di lapangan kering, tradisi ini menggunakan sapi ternak pembajak sawah Karena keunikannya yang sarat akan nilai budaya masyarakat agraris, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi resmi menetapkan Kerapan Sapi Brujul sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) pada 18 Oktober 2019.

Tradisi Sapi Brujul sangat erat dengan kearifan lokal masyarakat Probolinggo. Nama “brujul” sendiri diambil dari nama alat bajak sawah yang ditarik oleh sapi-sapi tersebut, yang kini beralih fungsi menjadi ajang pacu kecepatan dengan lintasan sepanjang 100 hingga 150 meter. Tradisi tersebut juga dikenal tanpa penutup mata, tanpa kresek, dan tanpa kekerasan terhadap sapi. Karena itu, Brujul tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Probolinggo yang terus dijaga dan dilestarikan dari generasi ke generasi.

Tradisi ini bermula dari kebiasaan para petani yang membajak sawah sebelum masa tanam padi. Untuk mengisi kejenuhan dan menghilangkan penat, para petani iseng mengadakan balapan sapi di sawah yang sedang dibajak. Acara ini biasanya diselenggarakan setahun sekali, seringkali menjelang musim tanam padi atau bertepatan dengan hari jadi daerah/hari besar nasional. digelar di area persawahan di wilayah Kota Probolinggo, seperti di Kecamatan Kademangan (Jalan Semeru) dan Kelurahan Jrebeng Kidul, Kecamatan Wonoasih.

Kegiatan tersebut mendapat dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan melalui BPK Wilayah XI Jawa Timur. Ajang tersebut juga menjadi ruang kreativitas bagi pelajar dan mahasiswa lewat Lomba Foto Pelajar 2026 yang digelar di Lapangan Kerapan Wonoasih pada Minggu (24/5/2026), Menjadi salah satu agenda fotografi budaya yang menarik perhatian di Jawa Timur. Karakter balapan sapi di lintasan berlumpur dinilai menghadirkan banyak momen dinamis yang potensial diabadikan lewat kamera.

Tiga fotografer dan pegiat visual, yakni Rahmad Hidayat, Adhi Hendrana Jayawardhana, dan Hendhy T. Purnomo, didapuk menjadi dewan juri. Mereka akan menilai kekuatan momen, komposisi, serta kesesuaian karya pada lomba foto tersebut .

foto/adhi hendrana jayawardhana/BP Kebudayaan Jatim

Bagikan :