Candi Dadi

Tentang Candi Dadi

Candi Dadi terletak di Desa Wajak Kidul, Boyolangu, Tulungagung Tulungagung, Jawa Timur. Letak Candi Dadi tidak jauh dari lokasi Candi Cungkup, Candi Gayatri, dan Goa Selomangleng. Candi Dadi merupakan sebuah stupa, menurutnya bagian yang tersisa adalah dasar dari stupa. Pendapat serupa juga dikatakan oleh Van Stein Callenfels. Berbeda dengan keduanya, Agus Aris Munandar mengemukakan bahwa candi yang digolongkan pada candi era Majapahit ini merupakan sebuah Mahavedi yang berkaitan dengan kaum Rsi. Menurut ajaran Veda, para Rsi mengadakan sebuah upacara kurban dimana pada upacara ini dibawa beraneka sesaji berupa buah-buahan, keratin daging, bunga-bunga dan lain-lain yang diletakkan di atas altar serta terdapat potongan api, untuk selanjutnya sesaji ini dibakar sebagai persembahan bagi para dewa. Para Rsi yang melakukan upacara kurban di candi Dadi merupakan kaum Rsi yang bermukim di karsyan sekitar candi. Asap pembakaran langsung membumbung ke atas menuju puncak gunung sebagai tempat persemayaman para dewa. Agus Aris Munandar juga menyimpulkan bahwa candi Dadi ini memiliki hubungan dengan beberapa bangunan candi yang telah hancur seperti candi Urung, candi Bhuto dan candi Gemali. Juga berhubungan dengan gua-gua para Rsi yang ada di Perbukitan Wajak ini seperti gua Tritis, gua Pasir dan gua Selomangleng.

Selamatan merupakan sarana berdoa masyarakat Jawa. Sebagian masyarakat di sekitar candi menggunakan Candi Dadi sebagai sarana berdoa untuk mendapatkan berkah dari Yang Maha Kuasa. Upacara (doa) biasanya dilakukan pada hari-hari tertentu, terutama pada tanggal 1 Suro. Masyarakat tersebut membentuk sebuah paguyuban aliran kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

dok ; publikasi bpkw11

Sejarah

Candi Dadi merupakan candi yang pertama kali dicatat oleh pemerintah Hindia Belanda dalam ROD tahun 1915.

Gaya Arsitektur

Candi ini mempunyai denah dasar bujur sangkar berukuran 14×14 m. Ada bagian yang menjorok ke luar tiap sisinya, sehingga dari atas denahnya tampak berbentuk seperti plus. Di dalam denah ini dia atas batur pertama yang tingginya 3,50 m, terdapat susunan batu dengan tinggi 0,60m, juga berdenah salib Portugis yang merupakan batur kedua, kemudian disusul dengan batur rendah berdenah segi delapan dengan tinggi 0,50 m maka tinggi keseluruhan bangunan adalah 4,50 m.

Di bagian tengah bangunan Candi Dadi terdapat sumuran berbentuk kerucut berdiameter 3,75 m, dan puncaknya berdiameter 3,25 m, serta kedalaman sumur tersebut 3,50 m.

Rangkaian pelipit yang membentuk struktur bangunan adalah pelipit rata dan pelipit sisi genta yang hampir mendekati bentuk sisi miring (nimna). Dan dibangun di puncak bukit yang gak datar, sisi barat dan utara tempat berdirinya candi cukup cram, sehingga diperkuat oleh susunan balok-balok.

Candi Dadi telah ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat kabupaten pada tahun 2021. Tahun 2025 candi Dadi sudah ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat nasional.