KERATON SUMENEP

Museum Keraton Sumenep, yang awalnya merupakan Keraton Sumenep, memiliki nilai historis tinggi yang berkaitan dengan tokoh-tokoh penting seperti Bindara Saod (1751–1762), Panembahan Somala (1762–1812), dan Sultan Abdurrahman Pakunataningrat (1812–1854). Pada masa kepemimpinan ketiga tokoh tersebut, keraton mengalami perkembangan bertahap.

Pembangunan Keraton Sumenep di Pajagalan dilakukan secara turun-temurun, dimulai oleh Bindara Saod, dilanjutkan Panembahan Somala (Notokusumo I) dengan bantuan arsitek Tionghoa Lauw Piango, dan diteruskan oleh Sultan Abdurrahman Pakunataningrat. Keraton dibangun pada 1778 dan selesai pada 1780, disertai wasiat berbahasa Arab bertarikh 1200 H yang kini menjadi koleksi Museum Keraton Sumenep.

Dari segi arsitektur, bangunan Keraton Sumenep memiliki nilai artistik yang tinggi dengan perpaduan berbagai gaya, yaitu unsur Tionghoa, Eropa, dan lokal Sumenep. Perancangan keraton ini dilakukan oleh Law Piango, seorang arsitek asal Tiongkok yang termasuk salah satu dari enam orang Tionghoa pertama yang menetap di Sumenep. Berdasarkan cerita yang berkembang, mereka diperkirakan merupakan pelarian dari Semarang akibat konflik atau peristiwa yang dikenal sebagai Huru-hara Tionghoa pada tahun 1740.

Museum Keraton Sumenep, yang semula berfungsi sebagai Keraton Sumenep, merupakan warisan karya para raja Sumenep pada masa lalu yang keberadaannya masih dapat disaksikan hingga kini. Wujud peninggalan tersebut tercermin pada berbagai bangunan dalam kompleks keraton, antara lain Labang Mesem, Pendopo Agung, Keraton Dalem, Mandiyasa, Taman Sare, Keraton Koneng, Keraton Tumenggung Tirtonegoro, dan Togur Gentha.

Seluruh bangunan tersebut tidak hanya memiliki nilai arsitektural, tetapi juga memuat nilai-nilai budaya yang mencerminkan karakter ideal raja-raja Sumenep, seperti intelektualitas, spiritualitas (sokkla), sikap andhap asor atau kerendahan hati, keterbukaan, serta sikap berkeadaban.

Mandiyoso di Keraton Sumenep terletak di bagian belakang pendopo dan berbentuk bangunan terbuka yang memanjang dari utara ke selatan. Struktur bangunan ini ditopang oleh pilar-pilar bata berbentuk persegi panjang dengan hiasan berlanggam Ionic (Yunani), sementara bagian plafon dan rangka atapnya menggunakan kayu jati.

Secara fungsi, Mandiyoso menjadi ruang transisi yang menghubungkan pendopo dengan bangunan inti keraton. Di bagian tengah ruangan tersusun guci-guci keramik asal Tiongkok yang berjajar memanjang. Ruang ini juga dihiasi berbagai lampu antik yang menempel di dinding dan menggantung di langit-langit. Lantai yang sebelumnya menggunakan marmer kini sebagian telah digantikan dengan keramik.

Pendopo dalam bahasa Madura disebut mandapa, berasal dari kata mandap yang berarti rendah. Makna ini mencerminkan nilai kepemimpinan yang mengutamakan kerendahan hati, kedekatan, dan kebersamaan dengan rakyat. Oleh karena itu, pendopo dimaknai sebagai ruang pertemuan antara raja dan masyarakat.

Pendopo Agung berbentuk limasan Sinom yang umum dijumpai pada bangunan keraton di Jawa. Bangunan ini ditopang oleh sepuluh soko guru sebagai tiang utama, serta pilar-pilar penyangga lain bergaya Majapahit. Di bagian depan terdapat bangunan berukuran lebih kecil sebagai pintu masuk utama. Lantai pendopo sedikit lebih tinggi dari permukaan tanah, sekitar 10 cm. Atapnya menggunakan genteng tanah liat dengan ujung bubungan yang melengkung ke atas, mengingatkan pada bentuk atap bangunan Cina.

Pendopo dirancang sebagai ruang terbuka tanpa sekat, dengan langit-langit dari susunan kayu jati. Tiang-tiang penyangga juga terbuat dari kayu jati dan dihiasi ragam hias bergaya Majapahit. Pada masa lalu, pendopo hanya berisi kursi raja yang menghadap ke selatan, dilengkapi payung agung dan tombak di sisi kanan dan kiri. Setelah berakhirnya masa kerajaan, fungsi dan tata ruang pendopo berubah, ditandai dengan hilangnya atribut kerajaan dan digantikan oleh meja serta kursi.

Gedung Koneng di Keraton Sumenep terletak di bagian tengah dan sebelah barat Mandiyoso, namun orientasi bangunannya menghadap ke timur. Arsitekturnya menampilkan pengaruh gaya Belanda, yang tampak pada ragam hias dinding, pintu, dan jendela, serta pada ketinggian langit-langit bangunan.

Gedung Koneng terdiri atas beberapa ruangan berukuran luas yang pada masa lalu difungsikan sebagai ruang kerja raja. Setelah masa pemerintahan kerajaan berakhir, bangunan ini kemudian dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan koleksi benda-benda kerajaan. Di bagian belakang terdapat teras dan halaman kecil. Setiap ruangan dipisahkan oleh dinding tembok, dengan pintu dan jendela berukuran besar serta tinggi yang dihiasi ukiran.

Sebagian area teras Gedung Koneng digunakan untuk menyimpan tempat tidur raja pada saat wafat, termasuk ranjang jenazah setelah prosesi pemandian. Tempat tidur tersebut memiliki kaki yang terbuat dari gading gajah, dengan alas berupa anyaman rotan.

Taman Sare merupakan kolam pemandian yang dahulu digunakan oleh raja-raja Sumenep beserta keluarga istana. Area di sekitar kolam dipenuhi berbagai tanaman bunga dan pepohonan, seperti asoka, menur, jambu, dan kelapa. Pada masa lampau, kolam ini dipisahkan antara area pemandian laki-laki dan perempuan. Airnya dipercaya memiliki beragam khasiat, antara lain untuk menyembuhkan penyakit, menjaga awet muda, serta mendatangkan peningkatan jabatan atau kedudukan.

Akses menuju Taman Sare dapat melalui pintu di sisi timur pendopo. Di kawasan ini terdapat tiga pintu yang mengarah ke kolam, masing-masing memiliki makna simbolis. Pintu pertama diyakini membawa manfaat awet muda dan kemudahan memperoleh jodoh, pintu kedua dipercaya dapat meningkatkan jabatan, sedangkan pintu ketiga dimaknai sebagai sarana untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan.

Labang Mesem adalah pintu gerbang yang berada di sisi timur Keraton Sumenep. Secara harfiah, istilah ini berarti “pintu senyum”, yang melambangkan harapan agar setiap orang yang melintas keluar dan masuk keraton membawa rasa damai dan ketenteraman. Gerbang ini juga dimaknai sebagai pintu yang bersikap ramah dalam memuliakan tamu, sejalan dengan nilai-nilai ajaran Islam.

Bukaan pintu Labang Mesem dibuat relatif rendah sehingga setiap orang harus menundukkan badan saat melewatinya. Hal tersebut mengandung makna simbolis bahwa siapa pun yang masuk maupun keluar keraton wajib menunjukkan sikap hormat kepada penjaga, disertai kerendahan hati serta niat yang baik.

Atap bangunan Panyeppen berbentuk limasan. Pada masa lalu, tempat ini dipercaya sebagai lokasi para raja Sumenep melakukan semedi atau tapa untuk memperoleh petunjuk gaib. Bangunan peninggalan Panembahan Tirtonegoro ini menghadap ke arah selatan dengan pintu masuk yang terletak di bagian tengah.

Di dalam Panyeppen terdapat kamar-kamar di sisi kiri dan kanan. Pintu masuk menuju bangunan dihiasi ukiran berwarna merah yang selaras dengan warna lantai. Pintu utama mengarah ke ruang tengah yang terhubung dengan kamar-kamar. Setiap kamar dilengkapi tempat tidur berukir sederhana dan meja rias. Jendela kamar berukuran tidak terlalu tinggi serta dihiasi ornamen khas Madura. Ruang tengah berfungsi sebagai ruang keluarga yang bersifat privat.