CANDI JAWI

Candi Jawi berdiri megah dengan pintu masuk menghadap ke timur berbentuk tinggi dan ramping dengan tinggi 24,5 meter.

Bagian atap candi terdiri atas tiga tingkatan dengan bagian puncak berbentuk dagoba (stupa) yang makin ke atas makin mengecil. Atap bertingkat tiga berpuncak stupa dari batu putih, berbeda dengan kaki candi dari andesit, diduga akibat pemugaran setelah tersambar petir yang pernah merusak candi, sebagaimana disebutkan dalam Negarakertagama.

Bentuk stupa dalam agama Buddha umumnya menyerupai lonceng dan menjadi simbol penting keagamaan. Pada awalnya, stupa berupa gundukan tanah untuk menyimpan abu kremasi dan relik tokoh suci, lalu berkembang menjadi bangunan batu bernilai spiritual. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah dan meditasi, stupa juga melambangkan perjalanan hidup manusia menuju pencerahan dan nirwana.

RELIEF NAIK KUDA

Dalam bilik candi Jawi ditemukan yoni dengan relief naga di bawah ceratnya dan pada langit-langit tampak sebuah relief yang menggambarkan sebuah lingkaran bersinar, yang ditengahnya tergambar seorang sedang naik kuda. Bagian atap candi terdiri dari tiga tingkatan. Di dalam bilik candi terdapat yoni dengan relief naga di bawah ceratnya.

lingga yoni ada relung candi jawi

Candi Jawi menampilkan beragam simbol Hindu seperti kepala kala, makara, dan gana sebagai penjaga bangunan suci dan penolak bala. Makara dan Gana menghiasi kaki dan badan candi. Pada badan candi, pintu dan relung-relung juga dihiasi dengan relief yang diatasnya terdapat kepala kala. Antefiks menghiasi sudut-sudut dan bagian tengah candi. Pada area candi juga ditemukan arca Tri Murti, Lembu Nandi, Dewi Durga, relief Kaki di atap, serta yoni sebagai simbol Dewa Siwa. Sebagian besar arca Candi Jawi kini telah dipindahkan dan disimpan di Museum Cungrang, sementara sebagian lainnya mengalami kerusakan atau hilang

Gapura merupakan bangunan gerbang sebagai pintu masuk kompleks sekaligus penanda batas antara ruang sakral dan profan. Istilah ini berasal dari kata gopuram di India yang berkaitan dengan kesucian sapi sebagai wahana Dewa Siwa. Secara umum, gapura terbagi dua jenis: gapura bentar tanpa atap dan gapura paduraksa yang beratap. Di kompleks Candi Jawi terdapat gapura bentar di sisi barat daya, berorientasi timur–barat, tersusun dari bata dengan anak tangga andesit. Meski kini hanya tersisa bagian kaki, jejak tangga, selasar, dan engsel pintu masih dapat dikenali.