
| Candi Kalicilik adalah sebuah candi Hindu yang terletak di Desa Candirejo, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Candi Kalicilik memiliki denah berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 6,6 × 6,6meter dan ketinggian kurang lebih 8,3–9 meter. Bangunannya tersusun atas tiga bagian pokok, yakni kaki, tubuh, dan atap candi, yang mencerminkan pola umum arsitektur candi-candi Jawa kuno. Struktur candi didominasi oleh penggunaan bata merah, sementara batu andesit dimanfaatkan pada beberapa unsur bangunan tertentu. Orientasi bangunan menghadap ke arah barat, dengan pintu masuk yang dihiasi ornamen Kala pada bagian atas ambang. Terdapat pula relung dalam keadaan kosong, sementara pada bagian dindingnya terpahat relief Dewa Surya yang digambarkan dengan pancaran sinar matahari di sekelilingnya, selain itu terdapat pula hiasan Kala pada sisi utara, timur, dan selatan bangunan. Perpaduan material bata merah dan andesit, denah bujur sangkar, serta penggunaan ornamen Kala menunjukkan bahwa Candi Kalicilik dibangun mengikuti tradisi arsitektur Jawa kuno dengan gaya yang dipengaruhi oleh periode Singasari hingga Majapahit. |

Berdasarkan kajian arkeologis, Candi Kalicilik merupakan bangunan bercorak Hindu-Siwa. Hal ini dibuktikan oleh ditemukannya arca Agastya beserta unsur-unsur ikonografi yang lazim dijumpai dalam tradisi Shaiva. Dalam ajaran Hindu, Agastya dikenal sebagai resi utama yang erat hubungannya dengan pemujaan Dewa Siwa.
Keberadaan angka tahun 1271 Saka (1349 M) pada bagian ambang pintu menunjukkan bahwa candi ini berkaitan dengan periode Kerajaan Majapahit, yang dalam praktik keagamaannya sangat dipengaruhi ajaran Hindu-Siwa.
Unsur arsitektural berupa hiasan Kala di atas pintu masuk juga merupakan ciri khas candi-candi Siwa, berfungsi sebagai simbol pelindung tempat suci dari unsur jahat. Selain itu, adanya relung-relung yang diduga dahulu berisi arca dewa-dewa Hindu semakin menegaskan fungsi religius bangunan ini.
Meskipun tidak disebutkan secara langsung dalam sumber besar seperti Nagarakretagama, temuan artefak dan gaya arsitekturnya menunjukkan bahwa Candi Kalicilik digunakan sebagai tempat pemujaan agama Hindu, khususnya aliran Siwa.

Hiasan kala pada Candi Kalicilik menampilkan karakter yang unik dan berbeda dari candi lainnya. Wajah kala tersebut diapit oleh ornamen naga yang disusun menyerupai bentuk tengkorak, sehingga menghadirkan kesan sakral dan simbolis. Elemen telinga digambarkan menyerupai sayap yang mengembang, sementara tanduk-tanduk runcing menghiasi bagian kepala. Sorot mata kala yang dibuat membelalak mempertegas fungsinya sebagai penjaga ruang suci.
Selain ornamen kala, pada bagian atas pintu candi juga terdapat pahatan angka tahun 1271 Saka yang menjadi penanda penting terkait waktu pendirian bangunan. Ornamen kala sendiri tidak hanya ditemukan pada satu sisi, tetapi menghiasi bagian atas keempat pintu candi, mencerminkan keseragaman simbol perlindungan pada seluruh arah bangunan.

Menurut Prajudi (199) Tata letak Candi Kalicilik diperkirakan mengikuti pola candi Klasik Jawa Timur, yang ditandai dengan posisi ruang utama (garbhagriha) agak ke belakang dan adanya penampil di sisi depan sebagai akses masuk. Pola ini berbeda dengan tata letak candi Klasik Jawa Tengah.
Menurut Pigeaud (1924) Penempatan arca dewa diduga mengacu pada konsep Tantu Pagelaran, terlihat dari keberadaan relung-relung di sisi utara, timur, dan selatan, serta ceruk di kanan-kiri pintu masuk. Relung-relung tersebut kemungkinan dahulu berisi arca Durga, Ganesa, dan Agastya, sedangkan ceruk pintu diisi arca Mahakala dan Nandiswara, sebagaimana diperkuat oleh keterangan juru pelihara mengenai temuan arca Agastya di sekitar candi.






