
Prasasti ini ditemukan di Desa Jiyu, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. Prasasti ini kemudian dipindahkan ke Museum Mojokerto yang diketahui dari laporan tahun 1914 oleh Dinas Kepurbakalaan Hindia Belanda (Oudheidkundige Dienst).
Prasasti Trailokyapuri II diberi nama berdasarkan nama tempat yang disebutkan dalam prasasti. Prasasti ini merupakan prasasti kedua dari tiga prasasti (dipahatkan pada empat sisi batu) yang berasal dari Desa Jiyu sehingga prasasti ini disebut juga dengan Prasasti Jiyu II.
Isinya berkaitan dengan peresmian sīma di Trailokyapurī, anugerah dari raja Majapahit Girindrawardhana dyaḥ Raṇawijaya kepada seorang pendeta utama bernama Śrī Brahmārāja Ganggadhara.
Saat ini, aksara Prasasti Trailokyapuri II sulit dibaca karena aus. Berdasarkan alih aksara J.L.A. Brandes, penanggalan yang tertulis pada Prasasti Trailokyapuri II berbunyi “swasti śrī śakawarṣātita 1408 kārttikamāsa tithi pratipāda kṛṣṇapaksa wu ma śu wāra, kulawu agneyasthagrahacāra rohiṇinakṣatra prajapatidewatā mahendramaṇḍala, parighayoga wṛṣikaraśi”. Bagian angka tahun jika dikonversikan ke Tahun Masehi menghasilkan 1486 M. L.-Ch. Damais memberikan catatan bahwa tarikh Prasasti Trailokyapuri I bermasalah sehingga tidak dapat dikonversikan secara tepat ke Tahun Masehi.
Aspek politik pada prasasti ini yaitu Tokoh Sri Brahmaraja Ganggadhara yang memegang peran penting untuk mengetahui peristiwa yang terjadi sehingga harus dibuatkan Prasasti Trailokyapuri II. Tokoh tersebut muncul pada prasasti-prasasti lain dari periode akhir Kerajaan Majapahit.
Prasasti yang menyebut tokoh Sri Brahmaraja Ganggadhara meliputi Prasasti Ptak, Prasasti Trailokyapuri I, Prasasti Trailokyapuri IIIa, dan Prasasti Sidotopo. Sri Brahmaraja Ganggadhara sepertinya merupakan tokoh yang berjasa terhadap raja. Tidak mengherankan jika banyak prasasti yang menyebutkan pemberian atau anugerah raja dan bahkan diteguhkan kembali. Raja Majapahit bergantung pada tokoh yang ada di daerah untuk kekuasaannya. Apalagi pada masa-masa ini, Majapahit mengalami kemunduran sehingga perlu dukungan agar kerajaan terus berlanjut. (Studi Informasi Prasasti di PIM- Tjahjono Prasodjo)







